Sabtu, 14 Desember 2013

Belanja : Amplop versus Mencatat

        Hampir di semua blog perencanaan keuangan saya temui tulisan tentang betapa pentingnya mencatat pengeluaran bulanan. Alasannya, kita jadi tahu kemana larinya uang kita. Saya setuju sekali dengan saran tersebut, sampai saya melakoninya sendiri.
     Bulan pertama, saya sangat rajin sekali mencatat pengeluaran, pendapatan dan investasi. Ada beberapa pos yg dicatat, antara lain makanan, kos, listrik (lampu, kabel, tespen, batere), FMCG ( sabun, sampo, odol, skincare, pantyliners, dll), bacaan (buku, koran, majalah) dan transportasi. Ternyata, pengeluaran terbesar adalah kos dan makanan, masing-masing mencapai 40%. Bacaan dan FMCG memakan 5%, transport 10 %. Bagus, sekarang saya tahu kemana larinya uang saya.

         Bulan kedua saya mulai malas mencatat pengeluaran. Cuma pendapatan dan hasil investasi saja yang rajing dicatat. Pengeluaran yang masih rajin dicatat cuma kos dan koran. Bulan ketiga sama saja.
       Awal bulan keempat saya mulai mencoba sistem amplop. Pos-pos pengeluaran dibagi ke dalam sejumlah amplop. Masing-masing amplop dinamai sesuai pos-pos pengeluaran di atas dan diisi sesuai persentase hasil pencatatan di bulan pertama.
         Mulai bulan ke-empat dan kelima hingga sekarang saya masih setia dengan sistem amplop. Biaya tambahannya cuma mengganti amplop tiap semester (karena yang lama sudah lusuh dan sobek). Waktu yang diluangkan cuma 30 menit di awal bulan.
       Kelebihan sistem amplop yang paling kentara adalah kemudahannya. Tidak perlu bersusah payah mencatat. Saya juga bisa berhemat lebih banyak dengan mengurangi pos bacaan dan listrik. Caranya? Pinjam buku di perpustakaan dan pilih lampu atau kabel yang bagus sekalian biar awet.
         Metode mencatat pengeluaran masih yang terbaik. Kita bisa tahu kemana saja uang mengalir. Namun semakin sibuk seseorang, semakin sedikit waktu yang bisa diluangkannya untuk mencatat pengeluaran. Maka inilah saat yang tepat beralih ke sistem amplop yang lebih sederhana.

0 komentar: