Minggu, 08 Desember 2013

Hickory Dickory Dock by Agatha Christie



image courtesy of gramedia.com
Novel klasik karya Agatha Christie yang saat diterjemahkan berjudul Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa ini mengambil latar belakang kompleks kos mahasiswa pasca Perang Dunia II. Tokoh utamanya masih Hercule Poirot, dengan sel-sel kelabu di otaknya dan kumis superbesar.
Sampul cetakan terbaru Hickory Dickory Dock menggambarkan barang-barang yang hilang dalam novelnya. Bila sudah pernah membaca isinya, kita akan tersenyum sendiri melihat sampulnya.
Hickory Dickory Dock termasuk judul yang jarang dicetak ulang oleh Gramedia. Cetakan sebelum 2013 adalah tahun 1997. Pembaca setia Agatha Christie di masa lalu sering kesulitan mencari terjemahan judul ini hingga bersedia membeli cetakan berbahasa inggris.
Hickory Dickory Dock, sesuai judul terjemahannya, memang bercerita tentang sejumlah pembunuhan di sebuah asrama mahasiswa. Alur ceritanya begitu lancar mengalir linear, mulai dari hilangnya barang-barang, pembunuhan pertama, interview para terduga, pembunuhan kedua, pembunuhan ketiga hingga solusi. Apa yang semula tampak hanya serangkaian pembunuhan ternyata berujung pada sindikat narkotik dan psikopat haus darah.
Di Hickory Dickory Dock, kita menjumpai tokoh pembunuh yang haus perhatian dan tidak pedulian. Dia selalu ada di sana, semua clue (petunjuk) mengarah padanya, tapi ia selalu bisa mengelak. Mirip dengan pembunuh di cerita Misteri Styles, kedua pembunuh juga punya partner setara dan bisa diandalkan, tapi tidak kentara kalau mereka partner in crime.
Sebagai sebuah hiburan, Hickory Dickory Dock sangat bagus dibaca sebagai selingan atau dinikmati saat senggang. Apalagi saat hujan dan ditemani secangkir coklat panas. Tebalnya hanya 341 halaman, mayoritas berisi dialog antar tokoh yang ringan dan enak dinikmati. Kita akan terhanyut dalam alurnya dan segera menamatkannya dalam waktu kurang dari 2 jam.

0 komentar: