Selasa, 17 Desember 2013

Percy Jackson Movie Series

       
     Penerbit Indonesia sepertinya sudah sadar bahwa novel fiksi fantasi adalah salah satu sumber pendapatan menguntungkan. Mereka mulai berani menerbitkan karya-karya penulis yang belum terlalu terkenal di Indonesia. Salah satunya novel-novel fiksi karya Rick Riordan.
Menurut laman Goodreads, karya-karya Riordan cukup diminati di USA sana. Alurnya menarik, menghanyutkan dan membuat pembaca penasaran dan tidak berhenti menikmati cerita. Di Indonesia, nama Riordan masih kalah tenar dibanding JK Rowling atau Suzanne Collins. Penerbit NouraBooks dan distributor Mizan juga tidak terlalu antusias memasarkan karya-karya Riordan sehingga bukunya tidak terlalu laris.

Sampai datanglah versi layar perak dari Percy Jackson, flagship novel-novel karya Riordan. Film pertama, Percy Jackson and The Lightning Thief, sukses menarik perhatian kaum remaja dan dewasa muda untuk mengenal lebih jauh karya-karya Riordan. Sejak film itu muncul (dan diikuti dengan film keduanya, Percy Jackson and Sea of Monsters) karya fiksi racikan Riordan laris hingga bisa cetak ulang. Saat tulisan ini dibuat, beberapa judul masih out-of-stock dan belum dicetak ulang.
Kisah dan jalan cerita Percy Jackson ini berpusat pada petualangan dan konflik anak-anak setengah dewa alias demigod, yang berpusat pada Percy (tokoh utama), Annabeth (pacar Percy, maaf spoiler), Luke,Thalia dan Grover. Sampai film kedua baru 5 tokoh itu yang muncul.
Riordan mengambil ide demigod ini dari legenda Achilles dan Hercules di era Kekaisaran Romawi dan mengadaptasinya dengan latar belakang Amerika abad 21 menjadi sejumlah anak-anak demigod yang punya kekuatan istimewa tapi selalu dikejar-kejar monster. Asal usulnya terasa mirip seperti Harry Potter tapi jumlahnya banyak dan punya motivasi yang beda-beda. Karena dewa-dewi Olympus ini jumlahnya banyak sekali dan masing-masing punya satu atau beberapa anak, jadi jumlah demigod mencapai ratusan anak (walau tidak semua diceritakan). Contohnya Percy son of Poseidon, Annabeth daughter of Athena, Luke son of Hermes, Thalia daughter of Zeus, atau Clarisse daughter of Ares.
Dibandingkan versi novelnya, film adaptasinya punya beberapa perbedaan, terutama dalam hal penokohan, evolusi karakter dan alur cerita. Hal yang menarik dari filmnya antara lain : pertama, keahlian tim make up artist yang berhasil membuat wajah ketiga tokoh utamanya (Percy, Annabeth, Luke) seperti pahatan kayu.
Pergerakan kamera kedua film adaptasi cepat tapi lembut, transisinya halus sehingga penonton enak melihatnya. Visualisasinya bagus, lebih berwarna dibanding film-film Harry Potter walau masih kalah dibanding Star Wars, Dark Knight atau Lord of The Rings.
Film-film Jackson ditujukan sebagai tontonan keluarga. Jadi unsur hiburannya lebih ditekankan. Ceritanya mengalir linear. Porsi dialog dan laga seimbang. Pengucapan (pronounciation) tokoh-tokohnya sangat jelas. Sesuai bagi yang ingin belajar listening English.
Kedua film Percy Jackson ini mengingatkan kita akan permen: ringan, manis dan berwarna-warni. Enak dilihat dan mencair di mulut walau kurang menginspirasi (alias kurang bergizi). Hiburan yang enak dilihat bersama anggota keluarga dan teman-teman. Happy watching.

0 komentar: