Kamis, 19 Desember 2013

Dimana Menggali Inspirasi?

image courtesy of www.montroselibrary.org
Teman-teman blogger pernah bingung mau menulis apa di blog? Sudah siap dengan alat tulis (laptop,pena, mesin ketik) tapi pikiran terasa hampa, tangan pun kaku. Tidak ada ide tentang apa yang mau ditulis. Pengalaman pribadi pun sudah terlalu sering ditulis sampai-sampai rasanya kurang menarik lagi. Saya pun sering mengalami hal itu.
Lama kelamaan, saya berhasil menemukan trik untuk melancarkan ide menulis. Yaitu dengan membaca, mengamati dan mengasosiasikan. Beberapa hal yang sering saya baca dan amati antara lain : berita (baik di televisi, koran, atau media online), novel, film, buku non-fiksi (terutama buku psikologi dan motivasi), percakapan dan manusia. Begitu mendapat ide dari hal-hal diatas, sekecil dan seremeh apapun, akan saya asosiasikan dengan hal-hal yang saya ketahui atau kenal baik. Lalu saya akan mengasah analisa dan imajinasi saya seliar mungkin.
Ketika ada suatu berita, entah di televisi atau di koran atau di media online. Tema dan pesan utama berita saya hubungkan dengan kejadian sejenis di masa lalu atau di novel. Sudut pandang, kepentingan dan opini pembawa pesan pun bisa jadi bahan tulisan menarik. Misa berita bank Century (sekarang bank Mutiara) yang selalu muncul setiap ada kegagalan pemerintah. Kita bisa membandingkan kejadian sejenis di Eropa (dimana bailout itu wajib dan halal), sudut pandang pembawa berita (setuju atau mencerca) dan opini si pembawa berita (kenapa dia setuju atau mencela).
Jenis atau tema berita, entah berita ekonomi, sosial, politik, olahraga,seni,  kesehatan,dan lain-lain juga bisa mendatangkan ide. Tinggal bagaimana kita menganalisa, mengasosiasikan dan berimajinasi dengan berita terkait.
Saat menonton film atau membaca novel fiksi, kita bisa menarik ide dari latar belakangnya, lokasi, setting waktu, dinamika masyarakatnya, kebudayaan masyarakatnya, tema, pesan gaya penuturan, sudut pandang penulis, dan lain-lain.
Misalnya novel atau film Sherlock Holmes. Setting waktunya London 1890an, saat Inggris masih berada di era post-Victorian, ketika masyarakatnya belum sadar kebersihan dan penerangan masih temaram. Gaya penulisan linier, dengan sudut pandang orang pertama (John Watson) dan ketiga. Tema: thriller dan petualangan. Dari tema atau setting waktunya saja kita bisa mendapat ide London abad 19 atau petualangan macam apa yang menarik bagi kita.
Dari percakapan, kita bisa menarik ide dari hal apa yang dibicarakan, sudut pandang atau opini orang-orang yang terlibat percakapan, atau isi obrolan yang mengingatkan kita pada hal lain (mengasosiasikan percakapan). Kita tidak perlu terlibat dalam pembicaraan, cukup dengan mendengarkan saja.
Kalau kita termasuk orang yang introvert atau malu bergaul, menyimak timeline di twitter atau menikmati twitwar adalah cara ampuh untuk menggali ide dari percakapan. Terkadang, drama antar manusia nyata, entah di twitter atau di dunia nyata, lebih menarik daripada sinetron. Kita bisa berimajinasi membuat fiksi mini atau cerpen dari pembicaraan antar manusia.
Saat menyimak pembicaraan atau twitwar kita tidak perlu melibatkan analisa dan prasangka (prejudice). Cukup kosongkan pikiran dan dengarkan. Ketika twitwar atau percakapan berakhir, baru kita analisa atau rekonstruksi dalam pikiran. Kita bisa menganalisa sudut pandang orang-orang yang terlibat percakapan, opini mereka atau tema obrolan apa yang membuat pelaku-pelakunya paling bersemangat. Kita juga bisa mengasosiasikan isi pembicaraan dengan berita, film atau hal-hal yang pernah kita alami dan amati.
Hal hal sederhana dari orang-orang yang terlibat percakapan atau twitwar pun bisa mendatangkan ide. Seperti cara bicara, penampilan fisik, pilihan baju yang dipakai, gerak-geriknya, cara tersenyum, cara berjalan atau cara makannya.
Kalau kita ingin menulis sesuatu berdasar riset, maka tulisan-tulisan non fiksi, terutama yang sudah berwujud buku adalah sumber tepat. Ambil saja sebagian kecil dari isi buku sebagai ide tulisan pendek kita. Sumber valid seperti publikasi resmi atau jurnal bisa langsung didapatkan dari daftar pustakanya. Yang perlu dilakukan hanyalah menyajikan tulisan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
Ide bisa didapat dari manapun. Kita “hanya” perlu menganalisa, mengasosiasikan, berimajinasi dan menyajikan dengan cara yang kita sukai. Inilah caraku, mana caramu?

0 komentar: