Rabu, 25 Desember 2013

ORI versus SUKRI

WELCOME 2014. At February, we can expect to see a new release of government sharia bonds, called SUKRI. So, what’s the difference between ORI and SUKRI?
ORI, akronim dari obligasi ritel Indonesia, biasanya diterbitkan di semester kedua, antara bulan Oktober-November. Aset-aset yang dijaminkan untuk ORI adalah aset negara yang sudah jadi, seperti gedung-gedung pemerintahan atau stadion Gelora Bung Karno. Surat dan dokumen pemesanan dan perjanjiannya memakai bahasa Indonesia dan Inggris.
SUKRI akronim dari sukuk ritel Indonesia. Biasanya diterbitkan di semester kedua, alias awal tahun antara bula Februari-Maret. Aset-aset yang dijaminkan adalah aset negara yang sedang dalam proses pembangunan, seperti jalan, jalan tol, jembatan dan lain-lain. Surat pemesanan dan perjanjiannya memakai bahasa Indonesia dan Arab.
Di luar bahasa dan aset penjaminan, ORI dan SUKRI sebetulnya sama saja. Imbal hasil sebelum pajaknya cuma beda 0.25%. karena saat ini BI rate masih di angka 7.5%, imbal hasil keduanya antara 8.5-9% (gross, belum dipotong pajak). Kelak jika neraca perdagangan Indonesia sudah membaik dan BI rate diturunkan, imbal hasil ORI dan SUKRI ikut turun juga.
Return ORI dan SUKRI biasanya dipatok selisih 1% lebih tinggi dari BI rate. Kalau BI rate 7.5%, return ORI dan SUKRI 8.5%. Waktu BI rate 6.5%, return ORI dan SUKRI cuma 7.5% (belum dipotong pajak).
Apakah obligasi ritel macam ORI dan SUKRI menguntungkan? Dibandingkan deposito, MTN atau SBI, mereka jelas lebih menguntungkan. Padahal tingkat keamanannya sama. Deposito cuma 7% setahun, MTN ±8% setahun, SBI/FR/SUN cuma ±3%. Dengan tingkat inflasi 8.3% setahun, ORI/SUKRI sesuai bagi investor yang ingin mempertahankan nilai mata uangnya.
Dibanding reksadana saham, reksadana campuran atau saham LQ45, ORI/SUKRI jelas kalah. Return ketiganya kalau bursa sedang bagus (antara Desember-Mei) bisa lebih dari 15%. Tapi ketiga instrumen investasi tersebut sangat fluktuatif. Hari ini potensial untung bisa saja besok potensial rugi.
ORI/SUKRI menjanjikan kestabilan. Kita tetap mendapat kupon yang dijanjikan tiap 3 bulan. Pokok investasi juga dikembalikan setelah 3 tahun.
ORI/SUKRI sesuai bagi investor konservatif yang menginginkan kestabilan dan perlindungan terhadap inflasi. Kalau dihitung-hitung, mereka jelas lebih menguntungkan dibanding tabungan dan deposito. Cuma memang tidak bisa diambil sewaktu-waktu (kurang likuid). Cocok buat investasi, tapi tidak sesuai buat dana darurat.
Kedua obligasi ritel tersebut bisa dibeli di bank dan sekuritas yang ditunjuk. Kalau beli di bank, seseorang minimal harus jadi nasabah prioritas dengan jumlah tabungan di atas IDR 500juta. Itupun belum tentu dapat semua ORI/SUKRI yang dipesan. Kalau beli di sekuritas, anda bisa beli minimal 5 juta (dan maksimal 3 milyar), hampir pasti dapat semua nilai pemesanan, dengan biaya 0.35% dari nilai pembelian. Carilah sekuritas yang tidak menarik biaya bulana biar tidak rugi.
Kedua obligasi ritel ini hanya bisa dibeli oleh investor perorangan, buka investor badan hukum. Walau ada beberapa asuransi yang bisa mengakali peraturan ini. Happy investing


0 komentar: