Minggu, 15 Desember 2013

Sherlock Holmes : 19 Petualangan Terbaik

Penerbit Indonesia memang kreatif mencari celah keuntungan. Salah satunya adalah menerjemahkan karya klasik yang sudah habis masa patennya dan memasarkannya dalam berbagai bentuk dan versi. 
Salah satunya adalah serial Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle yang sudah habis rightsnya sehingga orang-orang bebas membaca dan memperbanyaknya. Sherlock Holmes adalah salah satu tokoh detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle yang punya penggemar terbanyak di dunia (selain Hercule Poirot rekaan Agatha Christie). Jadi bisa dipastikan pasar untuk buku cetak terjemahannya sangat besar dan menguntungkan.
Sebuah penerbit dari Jogja, Penerbit Bangkit, berinisiatif menerjemahkan dan mengumpulkan 19 Cerita Sherlock Holmes dalam satu buku dan memasarkannya ke publik. Sebuah langkah pemasaran yang cerdik untuk menyasar pembaca yang baru kenal Sherlock, pembaca lama yang hanya ingin bernostalgia atau orang-orang sibuk yang lebih suka kepraktisan dalam membaca.
Berat buku ini diperkirakan ±150gram, sangat ringan untuk buku setebal 600an halaman. Untuk alasan praktis dan ringan pula, penerbit memilih kertas buram dengan jilidan lem yang sangat tebal sehingga buku ini tidak gampang rusak bila dibuka dalam keadaan terbalik atau basah (kertas buram lebih cepat kering dibanding HVS atau kertas cetak lain). Bekas lipatan pun lekas hilang. Pilihan kertas stensilan ini membuat mata tidak pedih dan kepala tidak lekas pusing saat membaca, sehingga buku ini sesuai dibawa bepergian. Harganya relatif murah, antara 50-70 ribu (beli saat akhir tahun seperti sekarang paling murah).
Kelemahan utama buku ini yaitu seringnya ditemui salah cetak. Tiap 90 halaman pasti ada kesalahan cetak, bahkan dalam satu halaman kadang bisa ditemui 2-5 kali salah cetak. Misalnya: kamu jadi kamuk, oleh jadi ileh. 
Kelemahan kedua : penggambaran kasusnya kurang lengkap. Clue yang diberikan tidak mencakup simbol dan sketsa petunjuk. Dalam buku terbitan Gramedia, kasus orang menari dilengkapi simbol lengkap gambaran orang menari sehingga pembaca bisa ikut memecahkan kasus. Buku ini tidak menyertakan simbol-simbol tersebut.
Sebagai tambahan, setting lokasi kasus-kasus Sherlock Holmes entah kenapa mirip dengan kasus-kasus yang ditangani Miss Marple. Desa kuno yang dingin, luas, suran dan berkabut, kaum bangsawan aristokrat nan kaku dan kota London yang kumuh. Penggemar Agatha Christie bisa membandingkan karya 2 penulis thriller terbaik di dunia.

0 komentar: