Kamis, 13 Februari 2014

Apa Industri Internet Menuju Bubble?




    Pemakai smartphone pasti akrab dengan banyaknya iklan bertebaran tiap kali memakai suatu aplikasi atau memainkan game online. Kebanyakan iklan yang berseliweran di aplikasi atau permainan tersebut adalah undangan untuk mengunduh dan memainkan permainan dan aplikasi lain. Misal: Line beriklan di UberTwitter, Kakao Talk beriklan di Facebook, Facebook beriklan di Yahoo, Yahoo beriklan di Line, dan seterusnya. They advertised each other, forming devil’s circle.
Keadaannya mirip dengan tahun 1998 dimana sesama aplikasi saling beriklan satu sama lain. Pada akhirnya perusahaan-perusahaan dotcom itu ditinggalkan pemakai karena tidak dapat memberikan nilai tambah atau manfaat dan kehilangan sumber pendapatan.
Bedanya dengan saat ini, app developer  tidak hanya bergantung pada iklan dari sesama app developer  tapi juga iklan dari perusahaan-perusahaan konvensional seperti produsen makanan dan kosmetik, operator telekomunikasi, pengembang properti atau perbankan, ditambah penjualan aplikasi versi premium yang mereka kembangkan.
Bahayanya, kalau para app developer  tersebut kehilangan user base karena pemakai bosan dengan banyaknya iklan yang bertebaran. Penyusutan jumlah pemakai membuat suatu aplikasi tidak menarik di mata pemasang iklan. Akibatnya kesediaan pengiklan untuk memasang iklan menyusut dan pindah ke media atau aplikasi lain.
Penyebab kedua user base menyusut adalah berkurang atau hilangnya manfaat yang ditawarkan aplikasi. Suatu aplikasi bisa kehilangan kehadalannya karena dipenuhi cacat (bug) atau muncul aplikasi lain yang lebih bagus dan lebih bermanfaat. Misal Opera Mini. Dulu begitu powerful, bisa mengompres data untuk menghemat bandwidth dan membuka situs manapun. Sekarang cuma bisa sanggup membuka website populer saja, tidak bisa mengakses blog atau jurnal mancanegara, dan disesaki iklan. Semakin murahnya harga paket data membuat pemakai tidak ragu-ragu berpindah ke Dolphin, UC, Firefox atau Chrome yang walau menyedot data lebih banyak tapi lebih cepat dan bisa diandalkan.
Berdasarkan pengalam bubble dotcom “98, bubble terjadi saat harga saham suatu perusahaan dotcom meroket sangat tinggi lalu turun drastis sampai tidak bernilai sama sekali karena mereka (manajemen perusahaan) mengabaikan pemakai, kehilangan sumber pemasukan dan merugi. Sehingga kepercayaan pemegang saham luntur dan mereka berlomba-lomba menjual saham perusahaan dotcom.
Jika dibandingkan dengan saat itu, jumlah perusahaan teknologi dan app developer yang melantai di bursa pada 2013 lebih banyak dan masing-masing punya sumber pemasukan beragam. Über mendapat untung dari banyaknya orang yang ikut jaringan berbagi mobil dan membayar iuran bulanan. Facebook, Google dan Amazon masing-masing menawarkan program afiliasi iklan dan bagi hasil penjualan kepada app developer. Beberapa app developer yang terintegrasi dengan bisnis restoran sering beriklan di Google Maps dan FourSquare. Singkatnya: perusahaan teknologi sudah mendiversifikasi produknya.

Investor di industri teknologi sudah lebih berhati-hati. Beberapa hedge funds kerap merilis laporan berkala tentang risiko dan prospek sejumlah perusahaan teknologi yang melantai di bursa. Pengawasan dari SEC (OJK/Bapepam di USA) lebih ketat. Jika ada kesalahan atau kecurigaan terhadap laporan keuangan, SEC segera mengeluarkan peringatan.

0 komentar: