Selasa, 04 Februari 2014

Jurusan (Kuliah) Bergaji Tinggi

Setiap tahun Tempo menerbitkan buku panduan jurusan-jurusan kuliah di Universitas Negeri dan Swasta. Tiap tahun ajaran baru siswa-siswa SMU dan sederajat dicekoki passing grade, jurusan favorit, biaya kuliah dan kewajiban untuk menjalani dua kali tes kelulusan dalam setahun.

Mereka kebanyakan pasti bingung mau kemana sesudah lulus sekolah. Salah satu pilihannya adalah bekerja. Pilihan lainnya adalah kuliah, yang sangat dianjurkan mayoritas orang tua. Jurusan-jurusan yang bisa mendatangkan uang cepat adalah pilihan favorit siswa dan orang tuanya.
Kedokteran, pertambangan, akuntansi, komunikasi dan informatika adalah sekian jurusan yang dianggap favorit. Pendapatan kerja setelah lulus tinggi, permintaan banyak dan (kadang) bisa kerja mandiri (self employment). Gaji seorang fresh graduate bisa dimulai dari kisaran 5 jutaan.
Tapi apakah jurusan kuliah lain layak dipinggirkan? Walau tidak sementereng dan bergaji sebesar lulusan jurusan-jurusan di atas, sebagian besar jurusan kuliah tidak menuntut mahasiswanya terlalu ahli di bidang kuliahnya. Pergaulan dan kemampuan bersosialisasi juga menjadi nilai tambah.
Salah seorang kenalan yang kurang berhasil di studinya (7tahun kuliah belum lulus) sedang berusaha meniti karir di bidang politik dengan menjadi calon legislatif, berbekal kemolekan paras dan uang orang tua.
Kenalan lain yang sangat jago dan lulus cepat dalam studi memilih bergabung dengan agen asuransi dengan memanfaatkan keahliannya berkata-kata dan bersosialisasi. Teman lain lulusan kedokteran memilih menjadi manajer pemasaran bagi sejumlah UKM yang dibinanya. Sangat sedikit pengaruh jurusan kuliah dalam karir mereka.
Dari yang sering saya saksikan, pekerjaan dokter (dokter manusia, dokter gigi, dokter spesialis, dokter hewan), akuntansi dan tenaga pertambangan memang mendatangkan materi berlimpah. Tapi jam kerja mereka panjang dan rawan sakit. Perhatian mereka ke keluarga jarang. Wisata terbatas ke wilayah perkotaan dan taman dalam kota.
Jurusan kuliah favorit menuntut pengeluaran besar, daya pikir kuat, pergaulan intens dan kemampuan komunikasi kuat untuk skripsi dan tugas akhir. Jurusan non favorit menuntut dana, nalar dan pergaulan lebih rendah.

Jadi, perlukah seorang calon mahasiswa memilih masuk jurusan favorit bergaji tinggi? Atau memilih jurusan apapun yang terjangkau dana dan nalar? Calon mahasiswa harus pandai-pandai mengukur diri. 

0 komentar: