Selasa, 29 April 2014

Fight Against Money Politics

image courtesy of kamoeindonesia.org
Pemilu legislatif baru saja berlalu. Ada yang berbahagia karena lolos ke Parlemen dan meraih kursi yang diidamkannya. Tapi lebih banyak yang kecewa berat dan dirundung nestapa karena gagal meraih tujuannya.
Satu hal yang menonjol dan terus muncul sejak Indonesia mengalami pemilu yang betul-betul jurdil sejak 1998 adalah wabah politik uang.

Di pemilu 2014 ini sebuah partai bisa mengajukan belasan calon anggota legislatif yang memperebutkan sebuah kursi. Padahal caleg-caleg tersebut juga harus bersaing dengan caleg dari partai-partai lain. Ada kompetisi internal plus eksternal.
Sebagian besar atau hampir semua caleg tersebut berpikir pendek agar bisa mendapat kursi, yaitu dengan menyogok warga di daerah pemilihan asal. Jumlah yang disebarkan sangat fantastis. Untuk satu RT bisa ada 10 orang yang suaranya dibeli. Seorang bisa mendapat 20-150ribu. Kalikan saja dengan jumlah bilangan pembagi pemilih (jumlah suara minimal yang diperlukan agar lolos). Angka ratusan juta hingga miliaran dibelanjakan untuk suara.
image courtesy of bengkulutoday.com
Untuk kursi DPRD II (kabupaten/kota) nilai serangan fajar minimal 80 juta, walau rata-rata caleg bisa mengeluarkan ratusan juta. Untuk kursi DPR/DPD alias Senayan, angkanya bisa menyentuh 5 miliar (tercatat minimal 600juta).
Beberapa orang yang sinis pernah berkata, mereka tidak akan memilih karena tidak ada caleg bersih dan tidak ada caleg yang tidak bermain politik uang. Tapi ketika disodorkan caleg baru dengan rekam jejak bersih, mereka berkilah lagi bahwa caleg tersebut tidak akan menang melawan caleg yang memakai money politics. Sia-sia memilihnya, jadi golput tetap lebih baik.
Sadarkah mereka, bahwa caleg yang sempurna berasalh dari proses gemblengan yang kejam. Caleg bersih macam Angelina Sondakh saja bisa terbawa arus permainan proyek saat berada di Senayan. Mereka menunggu caleg bersih yang mampu menarik suara massa banyak dengan jaminan tidak korupsi tapi tidak mau berpartisipasi dalam proses seleksi caleg bersih itu bagai menunggu sesuatu yang sia-sia.
Kalau kita menginginkan sesuatu, kita diajari untuk berjuang mendapatkannya, yaitu lewat pengetahuan, latihan dan strategi. Apa gunanya mengharapkan caleg bersih bebas politik uang kalau tidak mau berlatih memainkan proses demokrasi yang benar, seperti mencari rekam jejak caleg atau mendengarkan visi misinya, atau menyusun strategi agar caleg bersih bisa unggul dalam kompetisi pemilihan legislatif.

Salah satu cara menghilangkan politik uang sekaligus memuluskan jalan caleg bersih adalah merekam praktek politik uang dan mengunggahnya di Youtube atau Vimeo. Atau menerima uang tersebut, tapi disimpan sebagai barang bukti ke Bawaslu. Memang sulit, karena godaan uang ratusan ribu sangat kuat. Tinggal dipilih, mau negara ini bobrok terus atau ikut serta memperbaikinya.

0 komentar: