Selasa, 15 April 2014

Wedding Night by Sophie Kinsella



Lottie sudah berusia 33 tahun. Sudah 2 tahun berpacaran dengan Richard. Lottie mengira mereka sudah mapan dan siap menikah. Pikiran Richard belum sampai ke pelaminan. Mereka putus karena perbedaan visi. Sesudah putus dengan Richard Lottie bertemu Ben yang langsung melamarnya ketika mereka berjumpa kembali belasan tahun kemudian.
Fliss, kakak Lottie, sedang mengurus perceraiannya karena suaminya berselingkuh. Ia tidak ingin adiknya menikah dengan orang tak dikenal dari masa lalu atau mengulang kesalahannya dalam mengarungi rumah tangga. Maka ia pun merancang malam pengantin Lottie berantakan agar pernikahan mereka tidak sah secara hukum.

Kisah kakak beradik di Wedding Night mengingatkan saya akan Frozen, animasi box-office dari Disney, tapi posisinya dibalik. Justru sang kakak yang ingin menyelamatkan adiknya dengan menghalangi bulan madu Lottie dan menyusulnya ke Yunani.
Untuk pengarang sekelas Sophie Kinsella, Wedding Night terkesan datar dan kurang menggigit. Ada konflik antar saudara, ada dilema wanita kepala 3 yang kebelet nikah, ada konflik perusahaan ala WallStreet, tapi semuanya mengalir datar tanpa greget. Seolah-olah novel ini berangkat dari seuntai cerpen yang dimulurkan menjadi 586 halaman.
Kekuatan utama Wedding Night ada pada pengembangan karakternya. Tokoh Lottie, Fliss, Richard, dan Lorcan berkembang semakin dewasa seiring intensnya interaksi dan konflik mereka. Kita bisa melihatnya melalui dialog-dialog yang lebih berbobot dari waktu ke waktu.
Wedding Night bukan novel yang jelek, tapi juga tidak istimewa. Ada secuil kasih sayang orang tua di sana. Romansa kurang ditonjokan. Konflik batin dan pertentangan mendominasi, tapi pembaca tidak bisa mengkaitkannya dengan diri pembaca. Nilai 2.5 dari 5.

0 komentar: