Selasa, 29 April 2014

Pernahkah Indonesia Punya Legislatif Bersih?

Di Televisi di jalan, di tempat-tempat umum saya sering mendengar gerutuan bahwa calon dan anggota legislatif sekarang matre dan kotor semua. Terbersit pertanyaan dalam benak saya, memang pernah kita punya sistem pemerintahan (eksekutif), legislatif dan yudikatif yang 100% bersih?

Saat masih dalam perang kemerdekaan dan proses negosiasi kemerdekaan 1930-1960, ketiga elemen tersebut mungkin bisa dibilang bersih. Semua, elemen trias politika berkerja sama berjuang mempertahankan keutuhan bangsa. Jangankan korupsi, dana untuk menggerakkan administrasi negara saja nyaris tidak ada. Semua bergerak berdasarkan semangat kemerdekaan dan cinta tanah air.
Baru sesudah Soeharto naik tampu pemerintahan dengan membantai ratusan ribu simpatisan PKI dan sejumlah jenderal yang berseberangan dengannya, era Korupsi dan ketakutan dimulai.
Ia memecah belah dan mengadu domba sejumlah pihak agar mereka tidak punya kekuatan melawannya. Misal AU vs AD, China vs Jawa, abangan vs putihan, dan lain-lain. Ia juga melemahkan sistem legislatif dengan menciutkan puluhan partai masa orde lama menjadi hanya 3 partai saja, dimana ketua umum tiap partai ditunjuk olehnya. Elemen yudikatif dilemahkan dengan menaruh mereka langsung di bawah perintah presiden. Jika ada yang berani membangkang bisa dipastikan hilang atau tewas sebelum fajar menyingsing. Kekuasaan mutlak di tangannya membuat Soeharto bebas menilep APBN sebanyak apapun yang dimauinya. Sejak saat itulah era korupsi tertutup dimulai. Hanya orang-orang tertentu seperti keluarga dan penjilat yang bisa ikut menikmati hasil korupsi.
Memasuki era reformasi, ketika Soeharto digulingkan oleh demo besar-besaran mahasiswa (setelah sebelumnya berhasil menghilangkan sejumlah demonstran/aktivis seperti Wiji Thukul dan Elang), korupsi yang tadinya tertutup menyebar ke seantero Indonesia. Kaya miskin tua muda birokrat pengusaha polisi jaksa hakim tidak malu-malu lagi menilep uang negara dan menarik pungutan liar.
Tapi di era yang katanya paling bobrok ini juga lahir keterbukaan. Orang- orang bebas mengungkapkan pendapat tanpa takut dihilangkan atau tewas misterius. Masyarakat juga lebih berani melawan ketidak adilan. Korupsi yang tadinya meyebar pelan-pelan bisa dikikis lewat peran aktif masyarakat dan KPK. Walau semua jenis korupsi belum bisa ditumpas, tapi sudah ada usaha ke sana yang membuahkan hasil nyata.
Dari paparan di atas, bisa dibilang Indonesia pernah punya legislatif yang bersih saat orde lama karena tidak ada yang bisa dikorupsi. Legislatif orde baru belum bisa dibilang bersih karena hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk parlemen dengan restu bapak presiden, yang pastinya tidak gratis. Orde reformasi walau katanya paling bobrok, toh tetap ada sejumlah orang bersih seperti Ahok atau Tobas yang bersedia memperbaiki keadaan.
Kalau dilihat-lihat, keadaan saat ini jauh lebih baik dibanding orde baru. Orang bebas berpendapat dan berkarya sesuai kemapuan. Persaingan memang makin ketat, karena tiap orang punya kesempatan dan kebebasan untuk memaksimalkan potensinya. Masih ada politik uang dan kaum ekstrem kanan seperti PKS dan FPI yang rajin memalak pengusaha, tapi ada juga orang-orang yang berjuang melawan mereka.

Setiap perbaikan pasti memerlukan proses dan pengorbanan. Saat ini bangsa Indonesia sedang berproses menuju demokrasi dan kesejahteraan. Pertanyaannya, pilih ikut serta, atau apatis?

0 komentar: