Minggu, 17 Agustus 2014

Best Seller for Sure: Novel Percintaan

Sebagai salah satu pengunjung setia toko buku dan perpustakaan, saya cukup rajin mengamati buku-buku apa saja yang masuk daftar buku terlaris dan berhak dipajang di rak khusus di depan kasir. Kalau tahun 2012 tren buku nonfiksi adalah tema pengembangan kepribadian, maka 2013 bertema cara cepat kaya tanpa perlu kerja. Di 2014 tema yang populer adalah biografi, karena 2014 adalah tahunnya pemilihan umum presiden dan legislatif. Sehingga, biografi tokoh-tokoh yang nyapres berserakan di bagian best seller nonfiksi.

Untuk kategori fiksi, karya-karya yang masuk rak best seller punya satu tema nyaris seragam, yaitu percintaan. Tepatnya: cinta terhadap lawan jenis. Buku jenis ini perputarannya sangat cepat. Tiap bulan pasti ada saja novel cinta yang tergusur dari rak bestseller , hanya untuk diganti oleh novel romansa lainnya. Padahal novel bertema petualangan atau thriller bisa bertahan di rak yang sama berbulan-bulan. Contohnya novel Negeri Para Bedebahnya Tere Liye. Novel itu sudah 4 bulan berada di rak best seller pada tahun 2013, bersama dengan Cuckoo’s Calling dan Rantau Satu Muara, sebelum digeser Inferno. Dalam kurun waktu itu, ada puluhan novel percintaan yang silih berganti menempati rak terhormat tersebut.
Kenapa banyak sekali buku bertema cinta, entah teenlit, chicklit, atau fiksi sejarah yang mengangkat tema cinta? Salah satu penyebab adalah adanya jiwa romanti di tiap orang. Manusia suka sekali membaca fiksi romantis, lalu membayangkan merekalah pelakunya, tokoh yang mengalami segala macam drama di fiksi. Dengan kata lain, membaca kisah percintaan membuat orang bermimpi untuk bisa mengalaminya suatu saat kelak.
Kalau novel cinta 2 insan yang berbeda bisa laris manis bak kacang goreng, kenapa cinta kepada orang tua atau lingkungan tidak bisa selaris itu? Mungkin karena menjadi orang tua itu berat. Orang tidak ingin diingatkan besarnya tantangan yang dihadapi saat mengasuh anak. Kemudian, sangat sedikit drama yang bisa dituliskan. Anak yang membangkang sekarang bisa diatasi secara efektif dengan dialog atau dibiarkan menyalurkan emosinya.

Banyaknya pengarang yang menulis cerita fiksi romantis juga berimbas pada kepopuleran novel fiksi percintaan. Penerbit biasanya mempromosikan sejumlah buku bebarengan. Tiap pengarang harus berjuang agar tampak menarik dan berbeda dibanding pengarang lain agar konsumen mau membeli karya mereka. Penulis-penulis tersebut pun jadi rajin berpromosi, entah lewat media sosial atau siaran radio. 

0 komentar: