Minggu, 17 Agustus 2014

Kane Chronicles: The Throne of Fire by Rick Riordan

Sungguh beruntung saya karena perpustakaan daerah Magelang menyediakan Red Pyramid dan Throne of Fire sekaligus, sehingga saya tidak perlu membeli. Penerbit Mizan Fantasi sudah berbaik hati menyumbangkan kedua buku tersebut sehingga semua anak di Magelang bisa menikmati jalinan cerita anak bermutu.
Throne of Fire merupakan buku kedua dari trilogi The Kane Chronicles. Throne of Fire menceritakan perjalanan kakak beradik Carter dan Sadie Kane yang harus mencari Dewa Matahari Ra agar bisa mengalahkan Ular Kekacauan Apophis. Tapi sebelumnya, mereka harus menggabungkan ketiga bagian Kitab Ra, yang terpisah di Museum Brooklyn (New York), di Hermitage (Istana Musim Semi Tsar, Moskow) dan di Makam Mumi Bahariya (Mesir). Mereka harus mengumpulkan Kitab Ra sekaligus menebak-nebak rencana rahasia Vlad Menshikov, musuh mereka kali ini.

Dalam petualangan Carter dan Sadie di Throne of Fire kali ini mereka ditemani Bes (Dewa Orang Cebol), karena Bast (Dewi Kucing pengasuh mereka) harus memeriksan penjara Apophis.
Dibandingkan dengan Red Pyramid, alur cerita, deskripsi dan pengembangan kareakter dan Throne of Fire lebih cepat, mendetail dan lebih bagus. Lelucon-leluconnya lebih menyatu dengan jalan cerita dan lebih banyak. Pembaca tidak lagi dibingungkan dengan karakter dan sifat tiap tokoh, serta kerumitan hubungan darah dan emosional di antara para tokoh.
Kalau dibandingkan dengan Lost Hero atau Son of Neptune (dari serial Percy Jackson: Blood of Olympus) muncul kesan bahwa Throne of Fire merupakan pijakan pertama pengarang dalam membangun alur cerita dalam serial Blood Of Olympus. Seperti serial Blood Of Olympus, dalam Throne of Fire kita menjumpai perpindahan kebudayaan cepat, pengorbanan nyawa dari teman yang baru ditemui dan munculnya kekuatan baru dari tiap tokoh utamanya saat mereka terpojok.
Jika di Red Pyramid pembaca masih dibingungkan oleh tujuan tindakan tokoh-tokohnya, maka di Throne of Fire tujuan mereka lebih jelas. Pengembangan karakter tokoh dari anak-anak menjadi remaja digambarkan dengan pas. Carter dan Sadie lebih mampu bertanggung jawab, menghargai persahabatan, keluarga, waktu, masa depan, dan mulai tertarik dengan lawan jenis.

Walaupun menarik, tapi Throne of Fire bukan jenis buku yang akan saya baca berulang kali. Sensasi petualangan dan kejutannya memang banyak, tapi relatif mudah ditebak dan tidak membuat penasaran. Cukup 4 dari 5 bintang.

0 komentar: