Jumat, 22 Agustus 2014

Eon & Eona by Alison Goodman

image belong to didyouhavejuice.wordpress.com
Dua buah fiksi seri karya Alison Goodman ini sebetulnya bisa saja lebih menarik andai ditambahkan kejutan-kejutan tak terduga, tidak hanya cinta melulu. Tapi karena target market serial ini adalah remaja, sedikit bisa dipahami pilihan premis dan plot Goodman.
Eon adalah seorang murid punggawa naga. Ia diharapkan bisa menjadi punggawa naga Tikus selanjutnya, walau harapannya tipis karena ia sesungguhnya wanita dan bercacat fisik. Di upacara pemilihan, alih-alih dipilih oleh naga tikus, ia justru dipilih oleh Naga Kembar menjadi Punggawa Naga-nya. Naga Kembar adalah naga betina satu-satunya yang sudah menghilang ratusan tahun. Sejak saat itu, hidup Eon dipenuhi intrik politik dan pertentangan batin, hingga ia terjebak dalam pusaran konflik Istana. Ia setuju menjadi sekutu putra mahkota Kyogo, tapi ia harus menyaksikan kematian Raja dan pemberontak mengambil alih istana. Eon, dengan bantuan Ryko dan Putri Dela, berhasil kabur dari kepungan pemberontak.

Eona, identitas asli Eon, menyadari kekuatan terpendamnya dan berhasil bekerja sama dengan Naga Kembar untuk mengatasi pemberontak dan membantu Kyogo merebut tahtanya. Layaknya cerita fiksi remaja, Eona terlibat romansa dengan Kyogo dan seorang Punggawa Naga lain. Ia dipaksa menyeimbangkan diri antara punggawa naga, remaja manusia normal dan kekasi putra mahkota sekaligus. Tugas yang sulit mengingat ia baru 16 tahun dan buta permainan politis.
Plot utama dibangun atas dasar premis standar: kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Ditambah dengan subplot cinta segitiga, perebutan kekuasaan, cinta terlarang, how to play politics for dummies, dan sedikit pesan: hindari mengambil hal yang bukan hak kita.
Alur cerita kedua buku ini lambat, dipenuhi dengan dialog-dialog pendek dan bersahut-sahutan layaknya remaja labil yang mentalnya nyaris runtuh oleh beratnya beban ekspektasi. Moral of the story? Teruslah mencoba walau pernah gagal, tapi cari cara agar kegagalan tidak terulang.
Daya tarik kedua novel ini adalah setting latar belakang dan waktu yang diambil. Memakai latar belakang China masa Dinasti Tang (atau Ming, saya sendiri belum bisa membedakan) Goodman berhasil membangun kesan kerajaan luas yang terlalu ringkih mempertahankan kekuasaannya dan terlalu abai akan kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, mereka bergantung pada kekuatan naga dan memanipulasi iklim untuk menjaga rakyatnya tetap patuh.

Walau kedua buku ini tebalnya lebih dari 600halaman, tidak dibutuhkan waktu lama untuk menikmatnya. Setiap buku bisa diselesaikan hanya dalam tempo kurang dari 4 jam. 2.5 dari 5 bintang. 

0 komentar: