Minggu, 17 Agustus 2014

The Power of Six by Pittacus Lore

Jenis buku apa yang paling baik menemani liburan dan bisa cepat selesai? Menurut saya, fiksi berjenis young adultlah yang terbaik. Kebetulan Perpustakaan Daerah Magelang barus saja mendapat kiriman The Power of Six dari penerbit Mizan Fantasi. Dan saya mendapat giliran keempta untuk membacanya.
Menurut situs media sosial goodreads.com , The Power of Six dipenuhi aksi petualangan dan perkelahian bela diri yang membuat pembaca tidak bisa lepas dari buku ini. Bayangan saya langsung merujuk pada tetralogi The Bourne.

Kenyataannya? The Power of Six adalah kisah yang terlalu banyak aksi sampai-sampai membuat ceritanya kering. Inti ceritanya sederhana: menyelamatkan diri dari kejaran musush. Sayangnya, terlalu banyak tindakan tanpa alasan dan tujuan yang dilakukan sejumlah protagonisnya. Mereka nyaris tidak pernah melakukan serangan balik atau melawan musuhnya. Selain asmara, tidak ada koneksi emosi lain di antara mereka. Akibatnya, cerita fiksi ini jadi membosankan.

Nyaris tidak ada, jarang sekali, pesan moral yang disuguhkan, selain spontanitas dan resilience. Kalau dibaca ulang beberapa kali, sebetulnya fiksi ini bisa lebih menarik dengan menambahkan unsur humor, tragedi kemanusiaan, atau kematian kekasih tokoh utama. Tapi ketiadaan humor dan tragedi membuat novel ini sangat membosankan. 1 dari 5 bintang.

0 komentar: