Minggu, 17 Agustus 2014

Inferno by Dan Brown

Beberapa bulan terakhir ini referensi bacaan saya meluasa. Saya mulai membaca karya-karya Tom Clancy, NH Dini, Pramoedya Ananta Toer, Louisa May Alcott (terutama Juvenilia) dan sejumlah pengarang lain yang karyanya tidak masuk rak best seller. Saya tidak lagi terkungkung pada karya Agatha Christie, Enid Blyton, John Grisham atau Michael Crichton. Sejumlah referensi tambahan membuat saya punya pandangan lebih luas soal jalan cerita dan alur kisah yang menjadi daya tarik suatu cerita.
Salah satu novel fiksi yang baru-baru ini saya baca adalah Inferno karya Dan Brown. Buku ini dibaca bebarengan dengan Geography of Bliss dari Eric Weiner dan The Prague Cemetery karya Umberto Eco. Kenapa? Karena Inferno ini membosankan sekali. Alurnya lambat, penuh penjelasan dengan kalimat panjang-panjang. Banyaknya kisah flashback yang diatur acak dan dialog yang terlalu panjang mengurangi daya tarik fiksi ini. Untungnya, ada subplot-subplot yang membuat pembaca penasaran dan bersedia terus mengikuti kisah. Akhir cerita yang mengejutkan juga menjadi nilai plus Inferno.

Alkisah, Robert Langdon terbangun dengan kondisi amnesia ringan di sebuah rumah sakit di Florence, Italia. Ia lupa bagaimana caranya ia sampai di situ, apa yang dilakukannya, dan kenapa ia bisa berakhir di rumah sakit dengan “luka tembak”. Dalam kondisi puyeng dan lemah, ia tiba-tiba dikejar oleh “pembunuh” dan dipaksa menyerahkan sesuatu yang ia tidak ketahui. Ia harus memecahkan teka-teki yang merujuk pada bagian pertama mahakarya Divine Comedia karya Dante Alighieri, yaitu Inferno (bagian kedua adalah Purgatory dan bagian ketiga adalah Paradiso). Ditemani dokter Sienna Brooks, ia harus melacak lokasi persebaran virus yang dilepaskan Bertrand Zobrist, “antagonis” kisah ini.
Tokoh Zobrist dalam Inferno lebih bertindak sebagai hantu dari masa lalu dibanding sosk nyata. Ia seolah muncul dari kedalaman neraka dan meneror semua tokoh dalam Inferno. Tujuan dan aksinya sangat jelas tersurat, tapi caranya meneror pikiran dan tindakan setiap orang sangat mempengaruhi jalan cerita.
Agak sulit juga memahami jalan cerita subplot dari Inferno. Untungnya, saya juga membaca Prague Cemetery, jadi ketika ada bagian yang membingungkan saya cukup membuka bagian Italia di Prague Cemetery untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Buku fiksi setebal 642 halaman yang diterbitkoan oleh Bentang Pustaka ini cukup lama bertengger di rak best seller fiksi, bersaing ketat dengan Cuckoo’s Calling dan Mockingjay. Nama besar Dan Brown masih manjur menarik perhatian biblioholic untuk mengoleksinya. Menurut saya pribadi, Inferno kurang sesuai untuk dikoleksi atau dibaca berulang kali. Lebih sesuai untuk bacaan selingan. 2.5 dari 5 bintang

0 komentar: