Senin, 19 Agustus 2013

Elegi Gutenberg : Memposisikan Buku di Era Cyberspace by Putut Widjanarko

Elegi Gutenberg yang ini sama sekali berbeda dengan The Gutenberg Elegies : The Fate of Reading in an Electronic Age (1994) Karya Sven Birkets. Elegi Gutenberg karya Putut Widjanarko adalah kumpulan essay Selisik yang ditulisnya di harian Republika. Elegi Gutenberg versi Widjanarko hanya sedikit menyinggung kemajuan teknologi, berbeda dengan Gutenberg versi Berkets.
Gutenberg ala Widjanarko memuat essay-essaynya tentang buku dan segala sesuatu yang berhubungan dengan buku yang dibagi menjadi 4 bagian utama, yaitu : Pesona Kedigdayaan Teknologi dan Dunia Cyber, Pesona Hasrat Ekonomi dan Tuntutan Pasar, Pesona Para Penulis da Serombongan Pesohor, dan Pesona Sejarah, Pecandu dan Perilaku Anehnya.
Kumpulan essay ini terbit pada Mei 2000, ketika Microsoft sedang berjaya dan industri buku Indonesia sedang sekarat. Waktu itu penjualan buku penulis lokal belum sebanyak sekarang, belum ada iPhone & Android, Toko Buku Gramedia masih terbatas (hanya ada di kota sangat besar), dan belum ada blog & sosial media sebagai media ekspresi. Tidak heran kalau beberapa tulisa menyorot keprihatinan penulis akan industri buku dan penerbitan yang saat ini sudah tidak relevan (Widjanarko tidak menyinggung pembajakan buku, yang marak di kota-kota besar). Sejak booming Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta, penulis kurang laku sekalipun (penjualan kurang dari 100 eksemplar per bulan selama 6 bulan berturut-turut) bisa menerbitkan buku sendiri dengan teknologi print-on-demand.
Beberapa tulisan menyoroti betapa perkasanya industri buku di Amerika dan Eropa, yang sekarang mulai tergeser oleh buku non-cetak dalam format pdf atau epub dan bisa didapat dengan harga USD 0.99 (9ribu) saja.
Bagi teman-teman yang ingin memahami bagaimana industri buku dan penerbitan berevolusi, Elegi Gutenberg layak menjadi referensi. Kita bisa tahu bahwa promosi yang tepat (bukan hanya konten/isi buku) bisa membuat suatu buku laris dan penulisnya bergelimang royalti plus sponsorship.
Satu jawaban saya terhadap pertanyaan di sampulnya (Akankah cyberspace dan teknologi baru memusnahkan era Gutenberg?) adalah : belum. Kindle, Kobo, Googlebooks belum cukup kuat menggusur buku cetak. Mereka justru memacu penjualan buku fisik karena bagaimanapun membaca dan mengoleksi buku fisik dari kertas lebih aman di mata dan enak dibaca berulang kali.
Pendapat saya, buku ini menarik dibaca sebagai referensi, bukan untuk dikoleksi. Isinya terlalu nanggung, tidak terlalu menghibur seperti essay karya Trinity atau Raditya Dika. Elegi Gutenberg pun tidak menambah wawasan seperti Agustin Wibowo atau mengusik logika seperti V.Lestari dan Clara Ng. Enak dibaca tidak enak dibeli. Makanya lebih baik meminjam saja daripada membeli.

2 komentar: