Jumat, 09 Agustus 2013

Travelling Books : The Naked Traveler

    
image courtesy of Gramedia.com
      Medio 2000an, acara jalan-jalan atau travelling mulai menjamur. Hal ini dipicu maraknya acara kuliner yang bertebaran di berbagai stasiun TV (terutama dari TransGroup). Orang mulai bertanya-tanya, seperti apa rasa makanan dari daerah lain. Dari hasil wisata kuliner itu mereka mendapat bonus keindahan pemandangan alam dan pengalaman perjalanan (trip, journey) yang berbeda. Mereka berbagi pengalaman wisata dan kuliner itu melalui media sosial seperti blog, Facebook, dan (baru-baru ini) Twitter.
      Salah satu penulis yang
beruntung blognya sukses menarik puluhan ribu pembaca adalah Trinity (naked-traveler.com). Dialah pionir penerbitan kumpulan esai genre travel (jalan-jalan) dalam bentuk buku setelah Raditya Dika sukses dengan genre humor berjudul Kambing Jantan. Berbeda dengan tulisa humor yang membutuhkan kemampuan menarik perhatian dan menohok nalar, tulisan perjalanan hanya membutuhkan kemampuan menulis deskriptif dan sedikit gambar pemandangan dari lokasi wisata. Blog Naked Traveler menyadarkan orang bahwa mereka bisa membuat esai deskripsi perjalanan dengan mudah.
     Sampai saat ini, Trinity sudah menelurkan 4 seri Naked Traveller, satu komik, 2 buku kumpulan esai keroyokan dari beberapa penulis (Travelove dan The Journeys), plus berbagai tulisan di media cetak dan elektronik. Walau bukan orang kaya super tajir melintir seperti Bakrie’s atau Hartono’s, Trinity mampu membiayai sendiri kegiatan jalan-jalannya dengan menabung, berhemat dan mencari pendapatan tambahan. She’s an ordinary woman who achieve her goal with her own strength. Such an inspirational woman.
     Cara menulis dan menceritakan peristiwa ala Trinity sungguh sederhana. Ia bercerita dengan lancar dan mengalir, tidak terlalu dipusingkan oleh kaidah : Where, When, What, Who, Whom, dan How. Kadang salah satu dari keenam elemen tersebut tidak ada, namun ceritanya tetap utuh dan menarik.
     Bagi saya, semua cerita Trinity menarik. Tidak ada yang terlalu favorit. Karena melalui tulisan-tulisannya ia mengajak kita untuk mengenal budaya negeri sendiri dan tahu budaya negara lain.
     Kita seolah disadarkan bahwa pariwisata Indonesia sungguh kurang promosi dan infrastruktur. Jarang ada yang tahu pantai-pantai cantik dan perawan di Laut Selatan atau prosesi adat tahunan di Indonesia Timur. Jalan penghubung di Luar Jawa yang rusak total atau jadawal penerbangan yang sering delay menambah masalah pariwisata Indonesia.
     Naked Traveler membuka jalan bagi terbitnya buku dan novel bergenre jalan-jalan lain. Sejak Trinity sukses besar, penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku dengan tema serupa. Sebutlah : Ciao Italia, Selimut Debu, Wisata ke (sebut negara) dengan (1-5 jutaan), bermacam tips travelling, sampai seri Lonely Planet. Semua buku tersebut laris manis diborong pembaca.

     Mbak Trinity mungkin sering disangka cuek dan judes. Tapi berkat dialah generasi muda jadi bersemangat mengunjungi tempat-tempat wisata di tanah air. Klo Naked Traveler tidak terbit dalam bentuk buku mungkin generasi sekarang lebih suka menonton acara wisata di televisi.

0 komentar: