Kamis, 01 Agustus 2013

Kenapa kita harus belajar politik?

   
     Generasi muda sekarang semakin banyak yang skeptis dan sinis terhadap politik. Dulu (dan sekarang kadang-kadang) saya juga masih skeptis terhadap politik. Pasalnya, semakin banyak dari politikus yang mengkorup duit pajak dan APBN serta rendahnya moral politikus. Coba saja duduk agak lama di restoran ayam goreng tradisional yang terkenal enak, dalam 20 menit kita bisa menguping deal-deal politik, jual beli suara, pemerasan dan sogokan. Sebagian besar melibatkan duit pajak dan proyek pemerintah. Itu sebabnya saya ga doyan makan di restoran besar bin terkenal, bikin ga enak makan.
  Seburuk-buruknya politik, kita tetap harus mempelajarinya. Kenapa? Karena semakin kita menjauh dari politik semakin mudah kita dimanfaatkan oleh politikus. Tanyalah pada diri sendiri, seberapa asing kita akan wajah-wajah caleg dari dapil kita. Hampir sebagian besar atau malah semua tidak dikenal walaupun baliho mereka bertebaran di penjuru kota. Tak kenal maka golput. 
    Padahal tidak memilih atau golput ada risikonya juga. Golput justru membuat caleg yang doyan bagi-bagi duit sukses masuk parlemen (entah lewat jual beli suara atau serangan fajar). Makanya manfaatkan suara kita agar tidak ada satupun caleg yang jadi anggota legislatif. Kalaupun tetap mau golput, pastikan alasan benar-benar kuat.
   Percaya atau tidak, politik bisa ditemui di manapun, baik dalam kehidupan bermasyarakat atau di dunia kerja, apalagi kalau bekerja sebagai PNS atau di BUMN, untuk memperoleh kedudukan lebih baik. Kalau kita tidak mau belajar politik, kita bisa tertinggal dalam meraih promosi.
    Dengan belajar politik kita bisa belajar hukum sebab akibat dan belajar proses lobi. Kedua hal ini bisa mulai ditemukan saat bergabung di OSIS SMA atau organisasi-organisasi mahasiswa. Makanya jangan malas bergabung di UKM atau OSIS untuk mempelajari watak dan sifat manusia. Kalaupun tidak memiliki banyak waktu, tonton saja serial TV Scandal atau Game of Thrones. Dari situ kita bisa tahu bahwa dengan memberdayakan beberapa kemampuan yang dimiliki ( uang, jaringan pertemanan, keluarga, sex) kita bisa mendapatkan keinginan kita.
  Awal mula adanya politik adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Memang banyak kepala daerah dan anggota parlemen yang tujuan awalnya memperkaya diri sendiri dan nilep uang negara. Tapi ada beberapa yang memang betul-betul berhasil mensejahterakan warganya. Paling terkenal tentu keberhasilan Jokowi di Solo dan Basuki di Belitung. Mereka berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), menarik wisatawan, menata kota dan meningkatkan perputaran uang. Di tingkat dunia, Google bersedia menggelontorkan miliaran dolar US ke senat dan kongres seluruh dunia agar internet tetap gratis dan kebebasan berekspresi dilindungi.
   Terkadang kita melihat bahwa niat baik yang mengawali karir politik individu atau motivasi pendirian partai politik berujung tragis. Parpol tersebut tidak dapat menahan godaan memperkaya kelompoknya atau individu tersebut tergoda untuk memeras orang lain. Seperti niat baik Elda Deviyanti untuk menyediakan daging murah justru membuatnya diperas PKS atau keinginan memindahkan penduduk ke luar Jawa agar mereka lebih sejahtera dimanfaatkan untuk mengeruk uang oleh partai-partai Islam. Itulah kenyataan dan risiko yang dihadapi. Pasti ada saja orang-orang yang ingin mengeruk sumberdaya kita dengan memanfaatkan kebutuhan atau niat baik kita.
    Agar bisa bermain politik cantik atau menghindari politik kotor tidak ada cara selain berlatih menghadapinya dan belajar langkah-langkah politik. Misalnya sedia kamera mini saat pengurus partai, polisi atau kejaksaan berusaha memeras atau menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang punya akses terhadap kekuatan politik atas. Hal-hal seperti ini bisa dipelajari di buku “Never Eat Alone”.
     Sampai saat ini, bacaan terbaik untuk mempelajari sistem dan cara kerja politik di Indonesia masih Tempo (versi Koran dan Majalah) dan The Jakarta Post. Mereka mampu menyajikan berita investigatif yang obyektif dan lugas, tidak ada dipenuhi kepentingan pemilik atau editornya (spoiler: simpatisan partai sebaiknya jangan baca karena kebobrokan partai banyak diungkap nyaris tiap minggu). 
  Level di bawahnya ada Kompas dan The Jakarta Globe (kepentingan editor dan pemilik media terasa di opini dan beritanya). Lalu ada Vivanews, Republika, Koran Sindo dan Media Indonesia yang beritanya sarat dengan kepentingan dan pemujaan terhadap pemiliknya. Fans Club Bakrie dan FPI? Wajib langganan Republika.
   Untuk permulaan, jika sibuk dan benar-benar tidak punya waktu, Scandal dan Game of Thrones yang terbaik. Scandal untuk seluk beluk politik parlemen dan keahlian melobi, Game of Thrones untuk trik-trik agar bisa survive dan tidak dimanfaatkan politikus.

    Happy Learning :)

0 komentar: