Minggu, 18 Mei 2014

MAHABHARATA

Apa acara tv impor terfavorit saat ini? Kalau ditanya ke remaja-remaja putri dan ibu-ibu rumah tangga, pasti Mahabharata jawabannya. Kalau penggemarnya anak-anak usia sekolah SD dan SMP di Jawa dan Bali saya masih bisa paham. Mereka harus menonton acara ini untuk materi pelajaran muatan lokal. Tapi remaja putri dan ibu rumah tangga? Sejujurnya saya tidak menyangka.

Bagi penggemar karya sastra terutama mitologi India, Ramayana dan Mahabharata adalah 2 epos wajib. Ramayana lebih tipis dan sederhana ceritanya. Tidak ada konflik peran, pertarungan kepentingan dan mind games. Batas baik dan buruk jelas. Sisi ironis baru terlihat di akhir cerita.
Mahabharata lain lagi. Ceritanya super panjang dan merentang puluhan tahun. Ada konflik peran, konflik batin, perebutan kekuasaan, kecerdasan bermain politik dan kecermatan mengatur strategi di sini. Batas antara baik dan buruk tidak terlihat jelas. Efek sebab akibat dan alasan yang mendasari perilaku tiap tokoh dijelaskan dengan gamblang. Tiap tokoh antagonis tidak bisa langsung disalahkan karena tabiat dan perilakunya.
Serial TV Mahabharata mengadaptasi versi eposnya. Ada cerita yang ditambahkan, ada bagian yang dihilangkan, tapi dengan esensi yang sama. Dialog-dialognya lebih mengena dibanding versi epos dan wayang kulit. Satu paragraf di epos bisa mulur menjadi 3 episode. Penyuka drama kelas berat dipastikan menikmati setiap adegan danmomen, sehingga mereka semakin ketagihan menontonnya.
Hal yang perlu dipunji dari serial ini adalah dedikasi pembuatnya (produser dan eksekutif produser). Pemilihan aktor dan aktrisnya dibuat semirip mungkin dengan versi epos. Kostumnya betul-betul menyesuaikan daerah asal dan karakter tiap tokoh, misal kostum Sengkuni dan pengaturan cincin Yudhistira (tribute to @VeritasArdentur). Latar belakang (background) dibuat seperti layaknya istana kerajaan India sebelum dinasti Mughal. Riasan tiap karakter dibuat mendetail dan sesuai kareakter. Busananya pun mengikuti adegan-adegan tiap tokoh. Jadi jangan heran kalau Nakula bisa ganti kostum dan riasan sampai 4 kali dalam satu episode.
Dibandingkan versi Mahabharata yang ditonton waktu saya kecil dulu (sekarang tayang di Jogja TV), versi StarTV/ANTV lebih jernih gambarnya, lebih bagus animasinya, dan lebih sesuai penggambaran karakternya.
Saya jadi sedikit paham kenapa jutaan remaja putri dan ibu rumah tangga tergiur melihat aktor dan aktrisnya. Sedari kecil, keenam putra Kunti (Karna + kelima Pandawa) sudah imut dan tampan. Mungkin karena India dan Indonesia ada persamaan fisik, keelokan penampilan cast Mahabharata (macho, kotor, berantakan, pekerja fisik) lebih terasa wajar dan nyata dibanding keelokan versi Korea (klimis, bersih, lentur menari).
Di versi serial TV, Krishna ditampilkan berbeda dengan versi epos, wayang bahkan kartun. Jika di ketiga versi itu Krishna dan Sembadra ditampilkan berkulit hitam kebiruan, maka di versi serial TV kakak-beradik itu ditampilkan berkulit cerah, bahkan cerah dibanding Arjuna atau Sadewa :0. Mungkin karena Krishna juga bertindak sebagai narator cerita, maka ia dimodifikasi menjadi berkulit cerah agar menarik perhatian penonton.
Kelemahan serial ini, walau tidak mencolok, adalah animasi atau CGInya yang kurang menyatu dengan aktris/aktornya. Apalagi saat menggambarkan dunia laut atau langit. Kelihatan seperti tempelan. Untungnya akting pemeran-pemerannya mampu menarik perhatian penonton sehingga mereka lupa akan kelemahan itu.

Dari segi struktur cerita serial ini mungkin masih kalah dibanding Newsroom atau Hannibal. Tapi dari segi dramaturgi, dialog atau twist, serial ini hanya bisa dibandingkan dengan Game of Thrones. Dan Mahabharata masih unggul dibanding rival Eropanya itu. 

0 komentar: