Kamis, 15 Mei 2014

Time Management


Sudah akhir minggu tapi tugas untuk deadline  Senin belum selesai? Jadwalnya mengunjungi klien tapi pilih dugem? Ada presentasi 2 hari lagi, materi belum utuh tapi teman sekantor mengajak karaoke? Besok ada 3 presentasi sekaligus dan belum satupun yang benar-benar siap? Bisa jadi anda bermasalah dengan time management.

Sudah sering ditemui anak sekolah, pekerja kantoran, businesswoman  bahkan ibu rumah tangga yang pengaturan waktunya kacau balau. Waktunya belajar malah bermain. Waktunya meninabobokan anak justru terlena sinetron. Waktunya bersiap rapat malah main game,dst. Giliran tenggat waktu habis, mereka menggerutu dan mengeluh kekurangan waktu mengerjakan kewajiban mereka
Di Indonsia dan negara-negara equator lainnya, manajeme waktu buruk terkait erat dengan kebiasaan terlambat dan membuang waktu (misalnya: menunda-nunda pekerjaan). Ketiga hal tersebut, sedihnya, adalah identitas dan budaya Indonesia. Hampir semua orang terlambat. Janjian jam 8 pagi, artinya jam 9.30 orang baru akan berkumpul.
image courtesy of www.salmanahsan.com
Apa dampak negatif dari buruknya manajemen waktu seseorang? Paling kentara ia akan dijauhi dan diremehkan teman-temannya. Apalagi bila bekerja tim. Manajemen waktu buruk sama dengan tukang nebeng atau freerider. Baru datang saat pekerjaan sudah tuntas.
Bila bekerja individu, orang dengan manajemen waktu buruk biasanya akan keteteran sendiri. Ia sering merasa kesal dan marah karena harus mengerjakan tugas itu sendirian dan merasa hidup tidak adil karena tenggat waktunya sedikit. Padahal tugas atau pekerjaannya sudah diberikan dari bulan lalu dan teman-temannya sudah mengumpulkan berminggu-minggu lalu. Dianya saja yang sibuk futsal dan main game di kantor.
Bagaimana membuat manajemen waktu yang bagus? Sayangnya tidak ada rumus baku disini. Saya sendiri punya satu prinsip untuk mengatur waktu, yaitu istirahat total di akhir minggu. Saya menolak bekerja atau kerja kelompok di akhir minggu. Konsekuensina: saya harus mengebut semua tugas saat weekdays. Dan saya menikmati hal itu. Itulah trade-off  (pertukaran) yang harus saya lakukan bila ingin beristirahat total di akhir minggu.

Tentu saja ada hal-hal tidak enak lain yang muncul dari prinsip saya. Mulai dari dicap tidak setia kawan, dikeluhkan terlalu cepat bekerja, atau jadi bahan gunjinga. Tapi orang-orang yang melakukan ketiga hal tersebut tidak mau mencoba memperbaiki diri mereka sendiri. Jadi, buat apa ambil pusing?

0 komentar: