Sabtu, 20 Juli 2013

Kenapa Emas BUKAN Investasi?


Saat mendengar iklan radio, menonton TV, membaca koran atau mengobrol dengan teman, acap ditemukan tawaran investasi emas. Janjinya, emas bisa mendatangkan keuntungan puluhan kali lipat dalam sekian tahun. Contoh iklan: seorang nenek atau ibu yang membeli emas sekian gram di jaman Orde Baru dan menjualnya baru-baru ini mendapat harga 4-5 kali lipat dibanding saat membelinya. Wow

Sekarang lihat definisi investasi. Investasi adalah menanamkan modal untuk mencari kenaikan nilai dan aliran dana (cashflow) dalam jangka waktu tertentu. Kalau saham yang tidak ada jatuh temponya (sama seperti emas), dengan modal investasi 8juta (SMGR), tiap tahun dapat dividen tunai 110-150ribu(tahun depan bisa lebih lagi) dan kenaikan nilai investasi ±30% per tahun. Ini investasi betulan yang berisiko. Investasi yang risikonya sangat rendah, seperti obligasi ORI, dengan modal 5 juta tiap tahun dapat aliran dana berupa kupon senilai 250ribu (asumsi kupon 5%). Kalau disimpan sampai jatuh tempo selama 3 tahun, investor dapat uang tunai 750ribu tapi nilai investasinya tetap.
Bandingkan dengan emas. Emas cuma punya harga beli dan harga jual. Tanpa aliran dana tunai seperti dividen atau kupon. Kalau beli emas Antam seharga 485ribu per gram, harganya langsung turun 15ribu saat dibeli menjadi 470ribu. Kenapa? Karena 15ribu itu biaya pembuatan sertifikat. Jadi nilai sebenarnya memang cuma 470ribu. Kalau mau menjualnya, pembeli harus menunggu sampai harganya naik menjadi 500ribu per gram. Kalau beli emas perhiasan, nilainya turun lebih banyak karena ada biaya pembuatan perhiasan.
Biaya lain yang dikeluarkan setelah emas sampai di tangan kita adalah biaya sewa safe deposit box. Kalau punya emas tidak sampai 100gram mungkin bisa menyimpannya di brankas atau lemari pribadi. Tapi kalau punya ratusan gram sebaiknya menyewa safe deposit box demi keamanan si emas. Emas tidak punya arus kas, jadi jangan harap kita bisa mendapat uang tunai untuk menutupi biaya sewa safe deposit box.
Timing saat membeli emas sangat mempengaruhi investasi emas. Beli di 2011 dan menjualnya di 2013 jelas rugi karena harga per gramnya 550rb di 2011 dan turun jadi 490ribu di 2013. Saat nenek atau ibu membeli emas entah 10 atau 20 tahun yang lalu harganya cuma 100ribu per gram. Mereka untung bila menjual di 2013 karena harganya sudah naik hampir 5x lipat.
Investasi emas mirip investasi perhiasan (berlian,platinum) dan benda seni (lukisan, kerajinan tangan). Harganya dikendalikan oleh permintaan dan penawaran yang berkaitan dengan ketakutan akan hilangnya nilai investasi. Makanya emas disebut investasi lindung nilai, karena hanya menahan nilai pokok investasi.
Warren Buffett dan sejumlah hedge fund manager besar tidak suka berinvestasi di emas karena sifatnya yang tidak memberikan uang tunai dan biaya penyimpanannya yang besar (besar pasak daripada tiang). Di tahun 2013 ini saja JP Morgan (bank terbesar di USA) sudah melepas puluhan ton cadangan emasnya untuk mengurangi biaya operasional. Manajer-manajer Investasi raksasa yang mengelola dana milyaran dolar itu justru akan menyusutkan nilai investasi mereka kalau nekat berinvestasi di emas. Bila tujuannya sama-sama untuk melindungi nilai pokok investasi, mereka lebih memilih obligasi zero coupon bond Jerman yang super aman.
Emas identik dengan investasi dalam jumlah sedikit dan bagi pemula. Hampir semua perencana keuangan merekomendasikan emas bagi mereka yang sulit menabung atau berinvestasi, untuk kemudian ditukar dengan uang tunai saat nilainya cukup untuk DP rumah atau tanah. Bagi investor pemula, membeli emas maksimal 10 gram tidak membutuhkan ruang penyimpanan khusus. Emas juga cepat dijual kalau butuh dana darurat. Keberadaan fisik dan likuiditas membuatnya sesuai bagi mereka.
Investor moderat dan progresif tidak melihat emas sebagai investasi. Bila timing belinya pas, dalam waktu 5 tahun emas hanya naik 20-60% (dan bisa turun sebesar 60% pula) tanpa arus kas. Bandingkan dengan ORI atau SUKRI yang dapat arus kas pasti 25% dari nilai pokok, dan pada akhir tahun ke5 pokok investasinya dikembalikan utuh (asumsi kupon setelah pajak 5%). Sama-sama lindung nilai, tapi ORI/SUKRI tidak butuh biaya persewaan kotak besi dan biaya pembuatan, cuma materai 2 biji.
Untuk mengejar keuntungan maksimal emas yang 60% selama 5 tahun bisa dilakukan dengan reksadana index atau reksadana saham. Pilih saja reksadana saham/index yang berumur lebih dari 5 tahun dan sudah teruji memberikan imbal hasil lebih dari 60% selama 5 tahun. Rata-rata reksadana saham paling konservatif sekalipun mampu memberikan imbal hasil 60% dalam 3 tahun.
Bahkan saham BUMN paling banyak hutang seperti Jasa Marga (JSMR) sekalipun mampu memberikan kenaikan nilai 6x lipat dalam 5 tahun plus tambahan dana tunai 50-200ribu per tahun per lot bila kita membeli sahamnya secara acak, tanpa timing.
Masih mau berinvestasi di emas?

0 komentar: