Kamis, 11 Juli 2013

Perpustakaan

perpus Arsip provinsi Yogyakarta
 Pernahkan kalian ke Perpustakaan? Tahukah kalian ada berapa perpustakaan di Kota kalian? Tahukah kalian bahwa kantor Kelurahan pun (kadang) punya perpus kecil dan sederhana? Tahukah kalian letak perpustakaan terdekat?
   Belum tahu? Tak mengapa. Tidak semua orang tahu dan suka ke perpustakaan. Di tengah-tengah kesibukan bekerja atau mengurus rumah, mengunjungi perpustakaan adalah kegiatan yang sama sekali tidak terpikirkan.
   Padahal banyak sekali keuntungan perpustakaan lho. Yang paling kentara adalah kita tidak perlu membeli buku, cukup meminjam. Perpustakaan kota kecil seperti Solo atau Magelang sekalipun punya ribuan koleksi buku dan majalah yang bisa dipinjam. Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli, cukup berlangganan keanggotaan (member) sebesar 2-50ribu per tahun. Bandingkan dengan harga buku best seller termurah seharga 35ribu, belum termasuk sampul dan solar untuk mengusir rayap.
    Kedua, kita tidak perlu berlangganan majalah. Ada 3 majalah yang seolah selalu ada di perpustakaan daerah kota/kabupaten, yaitu : Majalah Tempo, National Geographic, dan Intisari. Kalau kita pencinta berat sains atau politik, 3 majalah itu adalah bacaan wajib bulanan. Padahal kalau ditotal biaya pembeliannya sudah 100ribu. Dengan meminjam di perpustakaan, kita cuma perlu keluar biaya transportasi ke perpustakaan.
  Keuntungan lainnya : kita tidak perlu merawat buku, koleksi bukunya lebih lengkap dan bervariasi dari perpustakaan pribadi (buku Balai Pustaka terbitan ‘70an masih ada dan terawat), bisa ngadem lama tanpa rasa bersalah atau ditanyain keluarga, bisa streaming musik dan film, dan bisa mengintip koleksi arsip kuno (walau kadang harus membayar), bahkan bisa tidur siang sebentar kalau perpustakaan tersebut menyediakan masjid atau mushola yang agak luas dan bersih (misal : perpustakaan Taman Pintar).
 Sejak perpustakaan-perpustakaan di Jawa Tengah dan DIY menyediakan perpustakaan keliling dan merenovasi gedung arsipnya, saya menambah frekuensi kunjungan dan mengurangi frekuensi membeli buku dan majalah. Buat apa? Toh perpustakaan terdekat sudah menyediakannya. Di Solo, perpustakaan keliling rutin berhenti dekat kantor, jadi saya bisa memperbarui bacaan saya tiap minggu.
  Perpustakaan di kota-kota besar seperti Jakarta atau Semarang menyediakan variasi yang beragam. Ada Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Departemen atau Perpustakaan Sejarah. Tapi pengunjungnya jarang dan tidak enak buat belajar lama-lama karena cahayanya kurang. Perpustakaan Temanggung yang sama-sama luas dan koleksi bukunya cuma belasan ribu saja jauh lebih banyak pengunjungnya daripada Perpustakaan Departemen Pendidikan.

Bagaimana dengan anda? Bagaimana kondisi perpustakaan terdekat? 

0 komentar: