Kamis, 11 Juli 2013

Reksadana Index

     Pernahkah teman-teman ditawari reksadana indeks? Atau membaca tentang reksadana index? Apakah teman-teman bingung dengan apa kata “indeks” dalam reksadana tersebut? Apakah “indeks” itu sama dengan indeks dalam forex?
     Well, indeks dalam reksadana indeks artinya memang sama dengan indeks pada forex, hanya prakteknya berbeda. Reksadana indeks adalah reksadana yang 80% (atau lebih) berinvestasi di saham-saham yang dianut suatu indeks. Misal reksadana indeks Dinar yang menginvestasikan 95% lebih dananya ke 30 saham yang masuk Jakarta Islamic Indeks. Di NYSE ada MSCI Small Cap Emerging Market yang menginvestasikan dananya di saham-saham berkapitalisasi menengah di negara berkembang seperti Indonesia, India, Filipina atau Malaysia.
     Di Indonesia sendiri tercatat ada beberapa reksadana indeks, antara lain : Dinar (Danareksa Indeks Syariah), CIMB Principal Index IDX-30, Premier ETF LQ-45, OSK Nusadana LQ45 Tracker, Kresna Indeks 45, dan ABF IBI Fund dari Bahana.
     Reksadana indeks dipopulerkan oleh pendiri Vanguard, John C. Bogle dan Warren Buffett. Menurut mereka, reksadana indeks adalah cara paling aman dan menguntungkan bagi pemula yang ingin berinvestasi dan investor jangka panjang. Kenapa? Karena reksadana indeks mencakup hampir semua saham yang ada di bursa atau indeks yang dianutnya, nilainya tidak sefluktuatif RDS atau RDC sehingga investor lebih aman top-up tiap bulan, dan biaya pengelolaannya kecil. Sebagai informasi, biaya pengelolaan (management fee) Dinar hanya 1%, dan Vanguard S&P 500 kurang dari 0.5%. Rata-rata biaya pengelolaan reksadana 2-4% per tahun.
     Teorinya, reksadana indeks mencakup hampir semua (80% atau lebih) saham aktif dalam indeks pengacunya. Seperti Dinar memasukkan ke-30 saham dalam Jakarta Islamic Indeks, atau Premier ETF LQ-45, OSK Nusadana LQ45 Tracker, dan Kresna Indeks 45 memasukkan 45 saham dalam LQ45. Tujuan utamanya untuk mendapatkan imbal hasil yang sama dengan indeks yang dianutnya. Metode pengelolaan reksadana indeks harus pasif (sangat jarang bertransaksi) untuk meminimalkan biaya.
    Kenyataannya di Indonesia agak meleset dari teori. Kalau kita cukup telaten membaca fund fact sheet ke-5 reksadana indeks di atas tiap bulan, kita akan menemukan bahwa 5 besar saham dalam portofolionya berbeda-beda tiap bulan. Kadang saham teratas mencakup 4% lebih dari portofolio.
    Kekurangan lainnya, indeks IDX LQ45 berubah tiap 6 bulan. Tiap indeks LQ45 berubah, apakah Manajer Investasi pengelola akan mengubah bobot portofolio yang berarti bertransaksi lagi? Bisa dipastikan ya, karena dalam setiap pembaruan, ada 3-7 saham yang keluar masuk LQ45. Tambahan transaksi = bertambahnya biaya = berkurangnya return.
    Terkadang, Manajer Investasi menaikkan jumlah transaksi saham yang masih satu grup dengannya agar saham-saham tersebut bisa masuk LQ45. Kenapa? Karena LQ45 adalah simbol kepercayaan. Kalau suatu saham bisa masuk LQ45, ia akan lebih mudah mendapatkan pinjaman dari bank dengan bunga kredit yang lebih rendah atau menjual surat utang dengan kupon yang lebih rendah.
     Semua kelemahan dari reksadana indeks diatas juga dimiliki oleh reksadana saham dan campuran lainnya. Penyebab utamanya adalah lemahnya transparansi dari Manajer Investasi dan lemahnya pengawasan dari OJK (dulu Bapepam). Manajer Investasi tidak diwajibkan membuat laporan keuangan dan mempublikasikannya ke publik. Mereka juga tidak diwajibkan menjelaskan alasan pengambilan keputusannya kepada pemilik dana dan pemangku kepentingan.
    Paling tidak, kita sudah mencoba. Kelima Manajer Investasi tersebut sudah mencoba meracik reksadana indeks yang berbiaya rendah. Dengan bantuan OJK, semoga kedepannya pengelolaaan reksadana indeks bisa lebih pasif dan transparan.

0 komentar: