Rabu, 01 Januari 2014

Aleph by Paulo Coelho

Aleph adalah karya Paulo Coelho yang diterbitkan tahun 2010 walau Gramedia baru menerbitkan terjemahannya tahun 2013. Kertasnya agak kekuningan dan lemas, memudahkan mata membaca karena tidak silau. Bisa didapatkan di Gramedia, Togamas atau toko-toko buku lain dengan harga 50-80ribu. Pengunjung Togamas disarankan membeli di hari selasa atau di bulan Februari, saat diskon paling besar.

Aleph bercerita tentang perjalana tokoh utama, Aku (yang kadang dipanggil Paulo oleh kolega-koleganya) melintasi Moskow hingga Siberia dengan kereta api sejauh 9200 km. Dalam perjalanannya, Aku bertemu dan berdialog dengan berbagai macam manusia. Tujuan Aku melakukan perjalanan ini adalah menemukan kembali dirinya setelah merasa tersesat dalam rutinitas bertahun-tahun.
Dialog dan tidakan Aku dilakukan paling sering dengan Yao, penerjemah bahasa Rusianya dan Hilal, gadis misterius yang mucul dari antah-berantah. Saat Hilal dan Aku beradu pandang, mereka saling melihat Aleph di penglihatan mereka.
Menurut saya, Coelho menemukan gagasan untuk menulis Aleph saat bertamasya ke Rusia. Dengan jalur kereta api sejauh 9200 km, seorang pengelana bisa menemukan apa saja, berinteraksi dengan siapa saja, dan berdialog dengan dirinya sendiri.
Tokoh-tokoh dalam Aleph seolah perwujudan dari cabang-cabang pikiran Coelho sendiri. Ia memikirkan dan menulis apa yang akan terjadi bila cabang-cabang pikirannya bertemu dan berinteraksi satu sama lain. Apa yang terjadi jika mereka berkonflik atau saling jatuh cinta?
Aleph mengandung banyak sekali kata-kata filosofis yang berkaitan dengan ucapan, harapan dan tindakan manusia. Membaca Aleph seperti mengikuti perjalanan seorang peziarah melintasi Rusia. Karena minimnya konflik dan hambarnya hubungan antar tokoh, saya anggapa Aleph ini sangat membosankan. Saya rasa Aleph adalah buku yang bagus, walau saya sendiri tidak begitu paham apa yang diceritakannya dan pesan apa yang ingin disampaikannya.
Dibandingkan dengan karya Coelho lain yang pernah saya baca, antara lain The Alchemist dan The Winner Stands Alone, Aleph terasa kurang berkesan dan kurang menggigit. Ia bahkan lebih membosankan daripada karya-karya Yasunari Kawabata yang berlatar belakang musim gugur.

Saya tidak terlalu menyarankan Aleph bagi penggemar cerita detektif, petualangan atau thriller. Tapi mungkin sesuai bagi penggemar filosofi, teologi dan teman-teman yang sedang mengalami krisis identitas. 

0 komentar: