Selasa, 07 Januari 2014

Perlukah Ikut Ospek?

Gerakan menggencet junior adalah hal lumrah di 99.9% sekolah di Indonesia. Terutama junior yang baru masuk sekolah/kuliah. Biasanya kegiatan perploncoan ini dilegalkan oleh sekolah dibungkus dalam acara berjudul Orientasi Siswa (entah Ospek, entah MOS)

Kegiatan “orientasi” ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan orientasi lingkungan sekolah, pengenalan pelajaran/mata kuliah, apalagi kegiatan belajar mengajar. Acaranya berisi balas dendam senior terhadap calon juniornya (“calon”, karena beberapa orang tewas di tengah “orientasi”, kalau tidak tewas baru disebut junior).
Wajar kalau “calon” siswa sering dipukuli, dihina, diteriakin pakai pengeras suara di telinga, diminta push up, dan mengerjakan tugas-tugas mustahil seperti membawa bunga dari rafia, sepatu anyaman plastik, dan lain-lain. Alasan senior melakukannya : untuk mengasah mental juniornya (padahal senior-senior itu takut cicak dan cuma berani mengeroyok).
Siswa sekolah menengah (SMP, SMA dan sederajat) hanya mengalami dua kali perpeloncoan. Satu saat ospek resmi, satu saat ospek pramuka. Mahasiswa baru bisa mengalami 3 kali diplonco. Pertama ospek universitas, lalu ospek fakultas dan ospek jurusan.
ospek di USA, siswa baru diperkenalkan ke lingkungan sekolah
Apa keuntungan ospek? Bagi peserta ospek, keuntungannya antara lain mendapat kenalan teman sependeritaan lebih awal atau mendapat jodoh dari panitia ospek, atau dimudahkan masuk organisasi mahasiswa seperti BEM atau Dema. Untuk poin terakhir ini, biasanya panitia organisasi mahasiswa menyukai mahasiswa baru yang memberontak, seperti enggan mengerjakan tugas, tidak mematuhi perintah panitia, dan kerap berdebat dengan panitia soal tugas yang tidak masuk akal.
Kerugian ikut ospek lebih banyak. Rugi waktu dan uang karena harus mencari hal-hal mustahil, rugi kesehatan karena kurang istirahat akibat mengerjakan tugas kelompok yang tidak masuk akal (dan tidak ada hubungannya dengan kuliah), rugi perban dan obat untuk menambal wajah, perut dan tangan yang luka-luka karena ditonjok senior. Ospek pun menghasilkan segunung sampah dari tugas-tugas tidak berguna yang dikerjakan.
Senior di universitas sering menakuti bahwa absen ospek berarti tidak bisa lulus. Mereka bohong. Baca baik-baik buku panduan kuliah. Tidak ada kata sertifikat atau bukti keikutsertaan ospek disitu. Syarat lulus adalah ujian skripsi, ujian magang, KKN dan sudah mengembalikan semua buku perpustakaan.

ospek di Eropa, siswa baru diminta presentasi dan mengemukakan ide
Jadi, perlukah siswa baru mengikuti ospek? Kecuali kepengin masuk BEM atau cari jodoh, tidak usah. Buang-buang waktu saja. Siswa sekolah menengah yang diwajibkan ikut ospek oleh OSIS, lebih baik ikut tapi tidak usah mengikuti perintah tidak masuk akal senior. Rekam saja kekerasan ala senior dan upload di Youtube. 

0 komentar: