Sabtu, 01 Maret 2014

Bisakah Menilai Harga Wajar sebuah Reksadana?

Suatu efek berisiko seperti saham dan mata uang bisa diperkirakan nilai wajarnya dengan melihat kondisi perusahaan emiten atau negara asal mata uang. Muncul pertanyaan, bisakah suatu reksadana (yang merupakan alat investasi kurang berisiko) diperkirakan nilai wajarnya?
Terpikir 3 cara yang secara teori bisa dilakukan untuk memperkirakan nilai wajar suatu reksadana. Antara lain metode DCF (discounted cash flow), perbandingan antar reksadana yang bobot 10 efek portofolionya sama, dan membandingkan sejumlah reksadana yang portofolionya berisi 5 efek yang sama.
Menilai harga wajar suatu reksadana dengan DCF berarti menilai masing-masing efek dalam reksadana tersebut dengan DCF dan menyesuaikan hasilnya dengan bobot masing-masing efek. Setelah mencoba cara ini, saya terbentur pada masalah tidak adanya Manajer Investasi yang merilis informasi tentang bobot semua efek (saham dan obligasi) yang berada dalam reksadana kelolaannya. Hal ini bisa dimengerti karena macam efek dan bobotnya dalam reksadana merupakan rahasia dapur setiap manajer investasi.
Cara kedua, membanding beberapa reksadana yang sama isinya atau minimal 10 efek dalam portofolionya sama dan bobotnya sama, juga sulit dilakukan dengan alasan yang sama seperti di atas. Tidak ada manajer investasi yang bersedia berbagi info pembobotan di reksadana kelolaaannya, walau hanya 10 efek sekalipun. Bahkan reksadana yang mengacu pada indeks yang sama (misal LQ45, JII atau Kompas 27) pun pembobotannya bisa beda.
Jalan ketiga yaitu membandingkan sejumlah reksadana yang portofolionya berisi 5 efek yang sama walau bobotnya beda lebih muda dilakukan. Walau peluang kesalahan (standard error)nya besar tapi cara inilah yang paling mungkin dilakukan. Setiap manajer investasi akan merilis portofolio reksadana kelolaanya tiap bulan yang kebanyakan berisi 5 efek terbesar yang digenggamnya. Hampir semua reksadana dari MI besar punya portofolio yang mirip-mirip walau persentasenya beda. Kinerja beberapa reksadana yang isinya mirip-mirip ini bisa saling dibandingkan satu sama lain melalui portal Bloomberg.com.
Dari ketiga cara diatas, yang paling mudah dan mungkin dilakukan adalah cara ketiga. Cukup membandingkan sejumlah reksadana yang isinya mirip, cari nilai rata-ratanya, maka itulah harga wajarnya. Atau bila 5 portofolio saham dalam suatu reksadana saham harganya di bawah nilai wajar, itulah saat membeli reksadana tersebut (cara pertama).

Walau kalau ditanya, berapa sebenarnya harga wajar suatu reksadana atau efek manapun, saya pun tidak tahu.

0 komentar: