Minggu, 30 Maret 2014

Kebiasaan

photo courtesy of everydaylife.globalpost.com
         Baru-baru ini saya membaca The Power of Habit karya Charles Duhigg (review menyusul). Inti ceritanya: bagaimana kebiasaan membentuk siapa kita, dan bagaimana memprogram ulang kebiasaan untuk tujuan tertentu.

Setelah membaca beberapa riset dan kisah di dalamnya, saya tersadar betapa pentingnya kebiasaan yang ditanamkan orang tua saat kecil di kehidupan dewasa saya saat ini. Sejak masuk sekolah dasar, orang tua memasukkan saya dan adik-adik ke klub renang. Kami dipaksa menyeimbangkan pola makan dan jam tidur dengan jam belajar. 

Orang tua juga mengembangkan kebiasaan lain, yaitu membaca. Kami didorong untuk membaca apa saja, mulai dari cerpen, koran, komik, majalah hingga terjemahan kitab suci (Al-Quran, Wedha, AlKitab dan Perjanjian Lama). Kami juga didorong untuk mengirim TTS ke Bobo. Walau selalu gagal, tapi kami jadi terlatih berusaha.
Berkah dari klub renang dan membaca sekarang kami nikmati. Kami terbiasa bangun pagi, terbiasa menyantap kombinasi makanan yang menyehatkan (karena jauh lebih baik daripada susu campur telur mentah, jahe dan kacang hijau rebus), terbiasa memandang masalah dari berbagai sudut pandang, terbiasa membaca dua buku per minggu, kecanduan endorfin dari olahraga (yang sekarang bisa didapat hanya dengan angkat beban atau lari) dan bisa menetapkan prioritas dalam hidup.

Saya benar-benar bersyukur atas semua yang sudah orang tua lakukan saat kecil sehingga saya bisa jadi diri saya saat ini. Walau dulu saya selalu mengeluh babak belur sepulang klub atau menolak menelan potongan daging sapi bakar tanpa bumbu atau nasi, tapi mereka tidak menyerah.  
Terimakasih, Ayah dan Ibu. :')

0 komentar: