Kamis, 06 Maret 2014

David&Goliath by Malcolm Gladwell

Di tahun 2013 kemarin Malcolm Gladwell menelurkan kumpulan essay terbaru, setelah sebelumnya menerbitkan Blink, Tipping Point, Outliers, dan What The Dog Saw, yaitu David dan Goliath: ketika si Lemah menang melawan raksasa.
Dari judulnya saja bisa terlihat bahwa tema utama yang diambil buku berisi sepuluh subtema ini adalah ketika kelemahan/kekurangan menjadi sumber kekuatan. Atau jangan terlalu mudah menilai sesuatu. Kesepuluh sub-tema yang dibagi ke dalam tiga bagian menunjukkan bahwa yang terlihat lemah belum tentu kalah dan yang tampak kuat belum tentu menang.

Tiap-tiap sub tema disimbolkan oleh nama seseorang yang berhasil menjadikan kekurangan dan mengatasi kelemahannya menjadi kekuatan dan kelebihan. Misal pada subtema André Trocmé dipaparkan bagaimana pengalaman “hampir dan tidak” terkena bencana bisa menguatkan sebagian besar orang, bagaimana pengalaman kena bencana mnghancurkan sebagian orang lainnya dan bahwa hal yang paling menakutkan adalah rasa takut itu sendiri.
Seperti gaya berceritanya dalam Tipping Point, Gladwell tidak menceritakan kisah-kisah dalam sub tema secara runtut, tapi melompat-lompat. Caranya memaparkan mungkin sangat mengganggu bagi orang yang berpikiran sangat linear. Namun entah kenapa ia sangat pandai merangkai cerita dan kata sehingga pembaca tetap terhanyut dan tidak mempermasalahkannya.
Setelah selesai menikmati semua cerita, ingatlah untuk membaca bagian catatan di akhir buku, sesudah ucapan terima kasih. Catatan memuat penjelasan lebih lanjut mengenai riset, kasus dan kisah yang termuat dalam David dan Goliath. Dari sinilah Gladwell memperoleh bahan untuk buku ini. Bisa dibilang catatan adalah versi panjang dari Daftar Pustaka. Tapi karena dilengkapi deskripsi, Catatan lebih enak dinikmati dibanding Daftar Pustaka yang kering.
Kekurangan David dan Goliath yaitu: bukunya terlalu tipis dan ceritanya terlalu singkat. Tema yang diangkat tidak dibahas terlalu mendalam, seperti Tipping Point atau Outliers. Sepertinya David dan Goliath dimaksudkan sebagai buku deskripsi riset ringan yang enak dibaca di waktu luang, bukan buku berbasis riset mendalam seperti Blink. David dan Goliath juga kurang enak dibaca berulang kali seperti What The Dog Saw karena minim sentuhan manusia dan emosi.
Secara keseluruhan, David dan Goliat cukup bagus. 7.5 dari 10 untuknya

0 komentar: