Jumat, 14 Maret 2014

Harga Kesuksesan : Ketahanan dan Keberuntungan



Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama saya sering merasa terpesona dengan orang-orang dan perusahaan-perusahaan sukses. Seolah mereka berhasil menaklukkan semua tantangan dan membuat mereka jadi manusia setengah dewa. Seolah keberhasilan mereka berlangsung selamanya dan mereka tidak terkalahkan.

Setelah buku-buku belasan tahun lalu dibaca lagi, barulah saya tersadar bahwa sebagian besar (±80%) perusahaan tersebut sudah tidak eksis lagi. Pimpinan eksekutif yang dulu tampak bagai manusia setengah dewa sekarang tak ketahuan rimbanya. Orang-orang sukses yang dulu tampak begitu memesona kebanyakan bangkrut atau kabur ke mancanegara. Sebagian beralih jadi pekerja sosial atau pindah bidang usaha karena merasa kosong dan bosan. Hanya sekitar 5% yang bertahan di bidang usaha yang sama dan berjuang mengatasi segala rintangan.
Perubahan-perubahan itu membuat saya merenung, bahwa dibutuhkan kesabaran dan ketahanan (persistence) untuk bertahan. Saat mencapai puncak sukses, mereka bisa saja terlena dan disalip kompetitor. Atau bosan dan beralih profesi. Atau terlalu sombong dan melakukan sejumlah kesalahan yang berakibat fatal (menggelapkan uang perusahaan, salah kalkulasi risiko, dan lain-lain).
Saya juga sadar, untuk setiap kesuksesan ada sejumlah kegagalan. Untuk setiap satu ide atau perusahaan yang berhasil sampai ke puncak ada puluhan hingga ratusan perusahaan yang gagal dan bangkrut. Untuk setiap Jamie Dimon yang berhasil ada ratusan Sri Mulyani yang gagal.
Keberuntungan pun memegang peranan besar. Tepatnya rentetan keberuntungan. Kalau tidak memulai usaha di awal era Orde Baru dan memegang monopoli mustahil Liem Sioe Liong dan William Suryadjaya bisa membangun kerajaan bisnis Indofood dan Astra.

0 komentar: