Minggu, 30 Maret 2014

Kontribusi Suara Bagi Otak

picture courtesy of wwolfdogswebsite.blogspot.com
Baru beberapa hari ini saya sadar bahwa otak saya bekerja sangat baik bila ada bunyi-bunyian yang agak ramai. Tidak seramai jalan raya, tapi lebih pada suara-suara bertempo cepat dengan banyak variasi dan sedikit pengulangan. Seperti musik alternatif atau orang mengobrol.

Penasaran, saya cari literatur dan saya adakan percobaan terhadap diri sendiri. Saya coba untuk mengerjakan tugas, membuat kerajinan atau menulis artikel di kesunyian nyaris total saat dinihari. Hasilnya kurang menggembirakan. Saya berhenti menulis dan mengerjakan tugas dalam 15 menit, dan beralih membaca BusinessWeek. Tapi ketika saya tambahkan musik (musik orkestra,tepatnya) dengan volume normal, otak saya mulai bekerja dengan cepat dan saya bisa menulis dan menghitung dengan tangkas.
Menurut sejumlah tulisan di NeuroAccoustic dan Technology Review, suara dan bunyi memang bisa mempengaruhi otak manusia bekerja. Hanya, bunyi-bunyian yang berpengaruh ditentukan oleh preferensi atau selera pendengarnya. Penggemar dangdut mungkin akan tertidur mendengar koleksi Liszt atau Tschaikovsky, sementara penikmat musik klasik yang anti dentuman drum akan pusing atau muntah bila disuguhi musik cadas alias rock.
Berangkat dari pengalaman dan literatur di atas , saya memutuskan untuk menambahkan unsur musik dan radio ke dalam rutinitas saya. Stasiun radio dengan penyiar yang cerewet,aktif berinteraksi, dan senang memutar lagu Top40 untuk rutinitas menulis atau membuat konsep, dan lagu dengan dengan beat sedang dan volume rendah untuk kegiatan berhitung. Selama tidak dihadapkan dengan perubahan jadwal mendadak, sejauh ini rutinitas saya cukup menyenangkan dan memberi hasil.
Bagaimana dengan anda, suara seperti apa yang paling sesuai untuk kegiatan anda?


0 komentar: